MAKASSAR – Kualitas udara menjadi perhatian ketika asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyebar hingga kawasan perkotaan. Kondisi ini dapat mengurangi jarak pandang, menimbulkan kabut, serta meningkatkan paparan partikel halus yang berisiko mengganggu kesehatan masyarakat.
Makassar sebagai salah satu pusat aktivitas di Sulawesi Selatan memiliki mobilitas masyarakat yang tinggi. Aktivitas bekerja, bersekolah, berdagang, hingga berkendara membuat banyak orang tetap harus beraktivitas di luar ruangan, termasuk ketika kualitas udara sedang kurang baik.
Foto yang menyertai artikel ini memperlihatkan kawasan perkotaan Makassar dengan lapisan udara yang tampak berkabut. Meski demikian, tampilan foto saja tidak cukup untuk memastikan bahwa kabut tersebut berasal dari karhutla atau menentukan tingkat pencemaran udara. Kepastian sumber asap dan kondisi kualitas udara perlu didukung pemantauan resmi.
Bagaimana Karhutla Dapat Memengaruhi Udara di Perkotaan?
Kebakaran hutan dan lahan menghasilkan asap yang mengandung campuran gas dan partikel, termasuk partikel halus PM2.5. Partikel berukuran sangat kecil ini dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan dan mencapai paru-paru.
Ketika asap terbawa angin menuju kawasan permukiman, dampaknya dapat dirasakan oleh masyarakat yang berada jauh dari lokasi kebakaran. Tingkat paparan dipengaruhi oleh intensitas kebakaran, arah angin, kondisi cuaca, serta konsentrasi polutan di udara.
Kondisi udara yang tampak berkabut tidak selalu berarti terjadi karhutla di sekitar kota. Karena itu, masyarakat perlu mengikuti informasi kualitas udara dan perkembangan kebakaran dari sumber resmi sebelum menarik kesimpulan mengenai penyebabnya.
Kualitas Udara Makassar Memburuk, PM2.5 Jadi Perhatian
Kondisi kualitas udara di Makassar menjadi perhatian serius pada pertengahan Oktober 2026. Pemerintah Kota Makassar menggelar rapat koordinasi penanganan pencemaran udara pada 14 Oktober 2026 setelah kualitas udara di Makassar dan sekitarnya dilaporkan masuk kategori sangat tidak sehat.
Berdasarkan laporan pemantauan yang diberitakan ANTARA pada tanggal yang sama, konsentrasi partikel halus PM2.5 mencapai 150,5 mikrogram per meter kubik. Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan dinamika angin yang membawa asap dari luar wilayah serta kebakaran hutan dan lahan di sejumlah titik. Polusi kendaraan juga menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan.
PM2.5 merupakan partikel polutan berukuran sangat kecil, yakni berdiameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Karena ukurannya, partikel ini dapat masuk jauh ke dalam paru-paru ketika terhirup.
Dampaknya tidak boleh dianggap sepele, terutama bagi masyarakat yang setiap hari beraktivitas di luar ruangan.
Dampak Asap Karhutla bagi Kesehatan
Asap kebakaran hutan dan lahan mengandung campuran partikel dan gas yang dapat mengganggu kesehatan. Paparan asap dapat menimbulkan iritasi mata, hidung dan tenggorokan, batuk, serta memperburuk gangguan pernapasan yang sudah ada.
Berikut beberapa kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih:
Anak-anak: sistem pernapasannya masih berkembang dan dapat lebih rentan terhadap pencemaran udara.
Lansia: terutama mereka yang memiliki penyakit kronis.
Ibu hamil: perlu lebih berhati-hati terhadap paparan polusi udara.
Penderita asma dan penyakit paru: asap dapat memperburuk gejala pernapasan.
Penderita penyakit jantung: pencemaran udara dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
Gejala yang perlu diwaspadai antara lain batuk berkepanjangan, sesak napas, mengi, iritasi mata, dan tenggorokan terasa tidak nyaman. Jika keluhan memburuk atau muncul kesulitan bernapas, segera cari pertolongan medis.
Cara Melindungi Diri saat Udara Memburuk
Ketika kualitas udara menurun, masyarakat perlu mengurangi paparan asap dan partikel polutan. Kementerian Kesehatan menganjurkan masyarakat untuk membatasi aktivitas di luar ruangan, menggunakan masker yang sesuai ketika harus keluar, serta menjaga perilaku hidup bersih dan sehat.
Berikut langkah yang dapat diterapkan sehari-hari.
1. Batasi aktivitas di luar ruangan
Kurangi olahraga atau aktivitas berat di luar ruangan ketika kualitas udara sedang buruk. Jika memungkinkan, tunda aktivitas yang tidak mendesak sampai kondisi membaik.
2. Gunakan masker yang sesuai
Jika harus beraktivitas di luar, gunakan respirator seperti N95 atau KN95 yang terpasang rapat untuk membantu mengurangi paparan partikel halus. Masker kain biasa tidak memberikan perlindungan setara terhadap PM2.5.
3. Jaga udara di dalam rumah
Tutup pintu dan jendela ketika udara luar tercemar. Jika tersedia, gunakan penyaring udara dengan filter HEPA dan pastikan ruangan tidak menjadi sumber polusi tambahan.
4. Penuhi kebutuhan cairan
Minum air putih sesuai kebutuhan membantu menjaga hidrasi tubuh. Namun, minum air tidak menghilangkan partikel polutan yang telah terhirup.
5. Pantau informasi kualitas udara
Ikuti informasi dari BMKG, pemerintah daerah, dan sumber pemantauan kualitas udara yang tepercaya. Jangan hanya mengandalkan penampilan langit atau bau asap untuk menilai tingkat polusi.
Herbal Oil Almahyra: Pendamping Kenyamanan Tubuh, Bukan Pelindung dari Asap
Di tengah kondisi udara yang kurang baik, masyarakat tentu ingin menjaga kenyamanan tubuh saat menjalani aktivitas sehari-hari. Dalam konteks perawatan keluarga, Herbal Oil Almahyra dapat diperkenalkan sebagai minyak herbal untuk membantu memberikan rasa hangat dan kenyamanan tubuh.
Herbal Oil Almahyra mengandung kombinasi 12 bahan herbal, antara lain bidara, zaitun, kelapa, jahe, kunyit, temulawak, kayu putih, cengkeh, gandapura, daun mint, sereh, dan adas. Produk ini diposisikan untuk penggunaan perawatan tubuh sehari-hari, termasuk pemijatan.
Namun, ada hal penting yang perlu dipahami masyarakat. Herbal Oil Almahyra bukan pelindung pernapasan, bukan penetral asap, dan tidak terbukti mencegah atau mengobati gangguan kesehatan akibat paparan karhutla.
Sensasi hangat atau aroma minyak herbal juga tidak berarti udara yang terhirup menjadi lebih bersih. Karena itu, ketika asap menyelimuti Makassar, perlindungan utama tetap berupa pengurangan paparan, penggunaan respirator yang sesuai, menjaga kualitas udara dalam ruangan, serta mencari pertolongan medis apabila muncul gejala.
Komunikasi produk yang jujur dan tepat membantu masyarakat memahami manfaat perawatan tubuh tanpa mengabaikan langkah kesehatan yang benar.
Jangan Anggap Remeh Udara yang Kita Hirup
Dampak karhutla tidak berhenti pada hutan dan lahan yang terbakar. Ketika asap terbawa angin menuju kawasan perkotaan, masyarakat yang tidak berada dekat dengan lokasi kebakaran pun dapat ikut terpapar.
Kondisi Makassar pada Oktober 2026 menjadi pengingat bahwa kualitas udara perlu dipantau dan ditanggapi secara serius. Masyarakat dapat berperan dengan mengurangi paparan asap, melindungi kelompok rentan, mengikuti informasi resmi, dan tidak menyebarkan klaim kesehatan yang belum terbukti.
Udara bersih merupakan bagian penting dari kesehatan keluarga. Menjaga diri bukan sekadar mencari kenyamanan ketika asap datang, tetapi juga mengambil langkah yang tepat untuk mengurangi risiko sejak dini.
Klik link dibawah ini untuk info lengkap tentang produk Almahyra
https://wa.link/ohyq95
Sumber informasi : https://www.detik.com/sulsel/makassar/d-8705996/dampak-karhutla-di-makassar-udara-buruk-penerbangan-terganggu

