Biaya CBAM Uni Eropa Berpotensi Turun 90 Persen, Verifikasi Emisi Jadi Kunci Daya Saing Industri Indonesia

JAKARTA — Industri Indonesia menghadapi tantangan baru dalam perdagangan internasional seiring penerapan Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) atau mekanisme penyesuaian karbon perbatasan oleh Uni Eropa. Kebijakan ini membuat jejak emisi karbon dalam proses produksi menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi biaya dan daya saing produk ekspor.

Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Mochamad Firman Hidayat, menyebut proses pengukuran dan verifikasi emisi industri berpotensi menekan estimasi biaya CBAM hingga sekitar 90 persen dalam simulasi satu kasus.

Pernyataan tersebut disampaikan Firman dalam diskusi Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) di Jakarta, Kamis (29/10/2026). Ia menjelaskan bahwa penghitungan menggunakan data emisi aktual yang telah diverifikasi dapat menghasilkan estimasi biaya lebih rendah dibandingkan penggunaan nilai emisi baku atau default value Uni Eropa.

 

ANTARA News+1

Verifikasi Emisi Menjadi Strategi Mengurangi Beban Industri

Potensi penurunan biaya tersebut menjadi perhatian bagi industri nasional, khususnya sektor yang menghasilkan emisi karbon tinggi. Dalam analisis DEN, produk baja seperti hot rolled coil (HRC) dan wire rod termasuk kelompok yang berisiko menghadapi beban biaya karbon cukup besar.

Bahkan, simulasi DEN menunjukkan bahwa biaya karbon untuk sejumlah produk baja berpotensi melampaui nilai jualnya apabila penghitungan menggunakan nilai emisi baku Uni Eropa.

Meski demikian, angka penurunan sekitar 90 persen tersebut perlu dipahami secara proporsional. Hasil itu berasal dari simulasi satu kasus dan bukan berarti seluruh eksportir Indonesia otomatis memperoleh pengurangan biaya dengan persentase yang sama.

Karena itu, Firman mendorong percepatan sistem pengukuran, pelaporan, dan verifikasi emisi atau Measurement, Reporting, and Verification (MRV). Sistem ini diperlukan agar perusahaan dapat menunjukkan data emisi aktual yang terukur dan dapat dipertanggungjawabkan sesuai ketentuan yang berlaku.

Kebijakan Karbon Mengubah Standar Persaingan Global

CBAM telah memasuki tahap penerapan definitif sejak 1 Januari 2026. Pada tahap awal, kebijakan tersebut mencakup sejumlah komoditas, antara lain besi dan baja, aluminium, semen, pupuk, hidrogen, serta listrik.

Berdasarkan pemetaan DEN terhadap data perdagangan 2025, nilai ekspor Indonesia ke Uni Eropa untuk kelompok produk yang tercakup dalam CBAM mencapai sekitar 2,32 miliar dolar AS atau setara Rp42,18 triliun.

Angka tersebut menunjukkan besarnya nilai perdagangan yang berpotensi terdampak kebijakan karbon, bukan jumlah kerugian yang telah dialami eksportir.

Ke depan, kesiapan industri dalam mengukur emisi, meningkatkan efisiensi energi, dan menerapkan proses produksi yang lebih ramah lingkungan akan menjadi faktor penting dalam mempertahankan akses pasar internasional.

Efisiensi dan Kualitas Menjadi Perhatian dalam Dunia Usaha

Perubahan standar perdagangan global tersebut memberikan gambaran bahwa dunia usaha harus terus beradaptasi. Efisiensi proses produksi, pengendalian biaya, transparansi, serta kualitas produk menjadi unsur penting untuk menjaga kepercayaan pasar.

Prinsip tersebut juga relevan bagi pelaku usaha di sektor lain, termasuk UMKM dan industri produk kebutuhan keluarga. Meskipun skala bisnis dan tantangannya berbeda, kemampuan menjaga kualitas serta membangun kepercayaan konsumen tetap menjadi fondasi keberlanjutan usaha.

Dalam konteks kebutuhan keluarga, Almahyra menghadirkan berbagai produk perawatan dan kebutuhan sehari-hari, seperti:

  • Herbal Oil Almahyra, minyak herbal keluarga yang memberikan sensasi hangat dan membantu relaksasi saat pemijatan.

  • Healing Oil Roll-On, aromaterapi praktis untuk menemani aktivitas sehari-hari.

  • Honey Kids, produk madu herbal anak yang penggunaannya mengikuti petunjuk pada kemasan.

  • Deora Herbal Deodorant, produk perawatan tubuh untuk membantu menjaga kesegaran dan mengurangi bau badan.

Kehadiran produk tersebut melengkapi pilihan kebutuhan keluarga sesuai fungsi masing-masing. Konsumen tetap perlu memperhatikan informasi dan petunjuk penggunaan yang tercantum pada kemasan.

Almahyra dan Peluang Bertumbuh Melalui Kemitraan

Di tengah perubahan lingkungan bisnis, kemampuan beradaptasi menjadi modal penting bagi pelaku usaha. Tidak hanya perusahaan besar yang perlu memperhatikan efisiensi dan kualitas, UMKM juga perlu membangun sistem pemasaran yang terarah serta menjaga hubungan jangka panjang dengan pelanggan.

Melalui sistem kemitraan, Almahyra membuka kesempatan bagi masyarakat untuk belajar memasarkan produk, memperluas jaringan pelanggan, dan mengembangkan usaha secara bertahap.

Kegiatan usaha tersebut membutuhkan pemahaman produk, pelayanan yang konsisten, pengelolaan modal, serta strategi pemasaran yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Kemitraan dapat menjadi salah satu alternatif pengembangan usaha, meskipun hasilnya tetap bergantung pada perencanaan dan pelaksanaan masing-masing mitra.

Adaptasi Menjadi Kunci Menghadapi Perubahan

Potensi penurunan estimasi biaya CBAM melalui verifikasi emisi menunjukkan pentingnya data yang akurat dalam menghadapi persaingan global. Industri Indonesia perlu mempersiapkan diri agar mampu memenuhi standar perdagangan internasional sekaligus menjaga daya saing produknya.

Hal serupa berlaku dalam membangun usaha. Kualitas, efisiensi, inovasi, dan kepercayaan konsumen harus berjalan beriringan agar bisnis dapat bertahan dan berkembang.

Almahyra — menghadirkan pilihan produk untuk kebutuhan keluarga serta membuka peluang kemitraan bagi masyarakat yang ingin tumbuh dan berkembang bersama.

Klik link dibawah ini untuk info lengkap tentang produk almahyra
https://wa.link/ohyq95

Sumber informasi: ANTARA News, 29 Oktober 2026, “DEN: Verifikasi emisi industri berpotensi menekan biaya CBAM 90 persen”.
ANTARA News

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *