Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan sekadar gangguan jarak pandang atau bau yang tidak nyaman. Ketika udara tercemar masuk ke rumah dan terhirup berulang, saluran pernapasan seluruh anggota keluarga dapat terdampak. Balita perlu mendapat perhatian lebih karena mereka belum mampu mengenali atau menjelaskan keluhannya dengan baik.
Kompas.com pada 15 Oktober 2026 melaporkan data Kementerian Kesehatan RI mengenai 277.075 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat karhutla. Dari jumlah tersebut, 62.400 kasus menimpa balita. Besarnya angka ini mengingatkan keluarga di wilayah terdampak asap agar tidak menunggu keluhan menjadi berat sebelum melakukan langkah perlindungan.
Memahami ISPA di tengah paparan asap
ISPA adalah istilah untuk infeksi yang mengenai saluran pernapasan. Dalam situasi karhutla, asap dan partikel pencemar dapat mengiritasi saluran napas serta memperburuk keluhan pernapasan. Namun, batuk atau pilek pada masa berkabut asap tidak boleh langsung didiagnosis sendiri sebagai penyakit tertentu. Gejalanya dapat memiliki beragam penyebab dan tetap memerlukan penilaian tenaga kesehatan, terutama bila dialami anak kecil atau orang dengan kondisi penyerta.
Balita, lansia, ibu hamil, serta orang yang memiliki penyakit pernapasan atau penyakit kronis merupakan kelompok yang perlu lebih dijaga. Orang tua juga perlu memperhatikan perubahan yang tampak sederhana, seperti anak menjadi kurang aktif, sulit minum, atau bernapas tidak seperti biasanya.
Cek kondisi udara sebelum memulai hari
Jadikan informasi kualitas udara dan arahan pemerintah setempat sebagai bagian dari rutinitas keluarga. Bila kualitas udara memburuk atau ada imbauan untuk membatasi kegiatan di luar, atur ulang perjalanan, olahraga, waktu bermain, dan kegiatan lain yang tidak mendesak.
Kondisi udara dapat berubah. Langit yang tampak lebih terang tidak selalu berarti paparan sudah aman. Gunakan informasi resmi yang paling dekat dengan lokasi tempat tinggal, lalu sesuaikan keputusan dengan kondisi anggota keluarga. Anak yang sedang batuk atau mempunyai riwayat gangguan pernapasan mungkin memerlukan pertimbangan lebih hati-hati dan arahan tenaga kesehatan.
Kurangi masuknya asap ke dalam rumah
Saat asap pekat, tutup pintu dan jendela yang menjadi jalur masuk asap. Pilih satu ruang yang relatif paling terlindung sebagai tempat berkumpul, terutama bagi balita dan anggota keluarga yang rentan. Hindari menambah pencemaran dari dalam rumah, misalnya asap rokok, pembakaran sampah, atau kegiatan lain yang menghasilkan banyak asap.
Jaga kebersihan ruang dengan cara yang tidak membuat debu kembali beterbangan. Bila keluarga memakai alat penyaring udara, ikuti petunjuk produsen dan rawat perangkat sesuai jadwal. Jangan mengandalkan pengharum ruangan untuk “membersihkan” udara karena wangi tidak menunjukkan bahwa partikel pencemar telah hilang.
Jika rumah tetap dipenuhi asap dan otoritas setempat mengarahkan evakuasi atau perpindahan sementara, prioritaskan keselamatan. Siapkan dokumen, kebutuhan anak, air minum, masker, obat rutin sesuai resep, dan kontak fasilitas kesehatan dalam satu tas yang mudah dibawa.
Atur aktivitas luar dan gunakan pelindung secara tepat
Batasi waktu di luar ketika asap terlihat pekat atau kualitas udara dinyatakan buruk. Anak sebaiknya tidak diajak bermain atau berolahraga di luar dalam kondisi tersebut. Apabila perjalanan memang harus dilakukan, pilih rute dan durasi yang meminimalkan paparan serta ikuti rekomendasi masker dari otoritas kesehatan.
Masker harus sesuai dengan pemakai dan dikenakan dengan benar agar tidak longgar. Kebutuhan anak tidak selalu sama dengan orang dewasa. Jangan memaksakan masker pada balita tanpa mempertimbangkan keamanan, ukuran, kemampuan bernapas, dan arahan tenaga kesehatan. Masker juga bukan alasan untuk memperpanjang aktivitas di lingkungan berasap.
Setelah kembali dari luar, ganti pakaian yang terpapar, bersihkan diri, dan cuci tangan. Sediakan air minum serta makanan yang sesuai agar rutinitas makan dan minum anak tetap terjaga. Langkah-langkah ini mendukung kenyamanan dan kebersihan, tetapi bukan pengobatan ISPA.
Pantau gejala, jangan melakukan diagnosis sendiri
Batuk, pilek, sakit tenggorokan, demam, atau rasa tidak nyaman saat bernapas perlu dipantau. Catat kapan keluhan mulai muncul, apakah semakin berat, bagaimana pola makan dan minum, serta apakah ada obat rutin yang digunakan. Informasi ini akan membantu ketika keluarga berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Hindari memberikan antibiotik, obat resep milik orang lain, atau ramuan yang tidak jelas kandungannya. Antibiotik tidak boleh digunakan tanpa penilaian dan resep tenaga medis. Pada anak, pemilihan dan dosis obat juga tidak boleh hanya disamakan dengan orang dewasa.
Tanda bahaya: kapan perlu mencari bantuan?
Segera cari pertolongan medis apabila anak atau anggota keluarga mengalami sesak napas, napas tampak sangat cepat atau berat, bibir tampak kebiruan, sulit dibangunkan, kejang, atau penurunan kesadaran. Pemeriksaan juga perlu segera dilakukan bila balita sulit minum, terus muntah, tampak sangat lemas, atau jumlah buang air kecil berkurang.
Bagi orang dengan penyakit pernapasan atau penyakit kronis, ikuti rencana penanganan yang telah diberikan dokter. Bila obat rutin tidak membantu seperti biasanya atau keluhan cepat memburuk, jangan menunda menghubungi fasilitas kesehatan. Dalam kondisi gawat, gunakan layanan darurat yang berlaku di daerah setempat.
Klik link dibawah ini untuk info lebih lengkap tentang produk Almahyra
https://wa.link/ohyq95
Sumber Informasi :
“Kemenkes Catat 277.075 Kasus ISPA akibat Karhutla, 62.400 Menimpa Balita”, 15 Oktober 2026: https://nasional.kompas.com/read/2026/10/15/08391841/kemenkes-catat-277075-kasus-ispa-akibat-karhutla-62400-menimpa-balita

