Ketahui Indikator Kesehatan Jiwa Optimal Menurut Model Dual-Continuum

Bebas dari gangguan jiwa belum tentu berarti jiwa sehat sepenuhnya. Para ahli menawarkan cara pandang yang lebih utuh.

(Foto: dua perempuan berhijab saling berbagi senyum saat memilih pakaian. Ilustrasi hubungan sosial yang hangat.)

Selama bertahun-tahun, kesehatan jiwa kerap dipahami dengan satu pertanyaan sederhana: apakah seseorang punya gangguan jiwa atau tidak? Bila tidak, ia dianggap sehat. Kerangka berpikir itu kini dipandang terlalu sempit.

Salah satu model yang paling banyak dirujuk untuk menjawabnya adalah model dual-continuum atau dua kontinum kesehatan jiwa, yang digagas sosiolog dan psikolog Corey Keyes.

Dua Garis, Bukan Satu

Dalam pendekatan lama, kesehatan jiwa digambarkan sebagai satu garis lurus, dari sakit di satu ujung hingga sehat di ujung lainnya. Model dual-continuum memisahkannya menjadi dua. Menurut artikel di jurnal Frontiers in Psychology, model ini memperhitungkan ada atau tidaknya gejala gangguan mental bersama ada atau tidaknya indikator flourishing, dan keduanya bisa muncul bersamaan dalam derajat yang berbeda pada satu orang. frontiersin

Kontinum pertama mengukur gangguan jiwa, dari gejala yang berat hingga nyaris tidak ada. Kontinum kedua mengukur kesehatan jiwa positif, yang Keyes bentangkan antara kondisi languishing (hidup terasa hampa dan stagnan) dan flourishing (berkembang dan berfungsi optimal). Keyes sendiri menegaskan bahwa kesehatan jiwa dan gangguan jiwa berada pada kontinum terpisah, tetapi korelasinya tidak sekuat itu sehingga ketiadaan gangguan otomatis berarti seseorang berkembang optimal. learningwellmag

Artinya, seseorang bisa tanpa diagnosis apa pun, tetapi menjalani hidup dengan perasaan datar dan tanpa arah. Sebaliknya, orang yang sedang menjalani perawatan gangguan jiwa tetap bisa memiliki makna hidup dan relasi yang bermakna.

Tiga Dimensi Indikator Kesehatan Jiwa Optimal

Untuk menilai kondisi di kontinum kedua, Keyes mengembangkan alat ukur Mental Health Continuum-Short Form (MHC-SF). Instrumen ini mengukur tiga dimensi: kesejahteraan emosional, kesejahteraan psikologis, dan kesejahteraan sosial. Seseorang dikatakan flourishing bila skornya tinggi pada ketiganya. frontiersin

1. Kesejahteraan emosional. Indikatornya adalah sering merasa bahagia, tertarik pada kehidupan, dan puas dengan hidup yang dijalani.

2. Kesejahteraan psikologis. Indikatornya adalah menerima diri apa adanya, mampu mengelola tanggung jawab sehari-hari, memiliki hubungan hangat dan saling percaya, mau terus bertumbuh, berani berpendapat sendiri, serta merasa hidup punya arah dan makna.

3. Kesejahteraan sosial. Indikatornya adalah merasa menjadi bagian dari komunitas, merasa mampu memberi kontribusi bagi lingkungan, mempercayai kebaikan sesama, dan memandang dunia sosial masuk akal serta bisa berkembang menjadi lebih baik.

Pandangan ini sejalan dengan semangat definisi kesehatan jiwa dalam UU No. 18 Tahun 2014. Undang-undang itu memandang jiwa yang sehat sebagai kondisi ketika seseorang dapat berkembang, menyadari kemampuannya, mengatasi tekanan, bekerja produktif, dan berkontribusi bagi komunitasnya.

Bahagia Saja Tidak Cukup

Temuan Keyes soal mahasiswa menarik dicermati. Ia menyebut sekitar 20 persen mahasiswa memenuhi kriteria flourishing dari sisi perasaan bahagia, tetapi rendah dalam fungsi psikologis atau sosial. Tingkat gangguan jiwa pada kelompok ini sekitar lima kali lipat dibanding mahasiswa yang benar-benar berkembang. Menurut Keyes, yang mendorong manfaat flourishing bukan sekadar rasa senang, melainkan kemampuan berfungsi dengan baik. learningwellmag

Pesannya jelas: kesehatan jiwa bukan hanya soal suasana hati. Ia juga menyangkut makna, hubungan, dan kontribusi.

Merawat Diri, Merawat Relasi

Dari tiga dimensi itu, dimensi sosial sering terlupakan. Obrolan hangat dengan sahabat, silaturahmi dengan keluarga, atau sekadar berbelanja bersama teman, seperti pada foto di atas, adalah bentuk sederhana dari keterhubungan sosial yang menopang jiwa yang sehat.

Perawatan diri sehari-hari juga ikut memberi ruang bagi tubuh dan pikiran untuk rileks. Di sinilah produk keluarga Almahyra dapat menjadi pendamping rutinitas. Produk ini tidak dimaksudkan mengobati gangguan jiwa.

Herbal Oil Almahyra, racikan 12 tanaman herbal seperti jahe, kunyit, sereh, cengkeh, dan mint, membantu memberi efek hangat dan relaksasi saat dipijat. Cocok untuk ritual santai di akhir hari setelah badan terasa pegal.

Healing Oil Roll-On menawarkan aromaterapi praktis yang membantu memberi efek relaksasi dan mengurangi rasa lelah. Ukurannya ringkas, mudah dibawa ke kantor, kampus, atau perjalanan.

Honey Kids membantu menjaga daya tahan tubuh, stamina, dan nafsu makan anak. Orang tua yang tenang melihat anaknya sehat dan bersemangat umumnya lebih mudah menjaga suasana rumah tetap hangat. Madu tidak untuk bayi di bawah satu tahun.

Deora Herbal Deodorant membantu mengurangi bau badan dan memberi aroma segar lebih lama. Rasa nyaman pada diri sendiri ikut membantu meningkatkan kepercayaan diri saat bertemu orang lain.

Seluruh produk Almahyra berbahan herbal alami, berizin BPOM, dan bersertifikat halal.

Kapan Perlu Bantuan Profesional?

Model dual-continuum juga mengingatkan bahwa kita perlu menjaga kedua kontinum sekaligus: mengurangi gejala gangguan bila ada, dan menumbuhkan kesejahteraan positif. Bila perasaan sedih berkepanjangan, cemas berlebihan, sulit tidur, kehilangan minat pada hampir semua hal, atau muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri, jangan menunda berkonsultasi dengan psikolog, psikiater, atau layanan kesehatan jiwa di puskesmas terdekat. Produk perawatan diri tidak menggantikan bantuan profesional.

Klik link dibawah untuk info lebih lanjut tentang produk Almahyra
https://wa.link/ohyq95


Sumber Informasi : https://kumparan.com/kabar-harian/ketahui-apa-indikator-kesehatan-jiwa-optimal-berdasarkan-model-dual-continuum-25nI6GJWDJ3

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *